beberapa waktu yang telah kosong


mereka telah berseru meninggalkan waktu
dan kalian membatu

dan seketika itu kalian merasakan ragu
seperti benalu ; hidup ini menempel?

lalu mereka bercerita akan angin
juga angan yang kalian rasakan

sementara itu, aku, mereka dan kalian semua
senantiasa ada dalam ruang
dengan beberapa waktu yang telah ksong

kalau boleh kusebut rindu



tetaplah menunggu jenuh supaya kau tak mengeluh dan aku tau kau terganggu tapi seperti menunggu di kebiasaan waktu dan kalau boleh, ini kusebut rindu. 

Ya, rindu tentang ruang dalam bentang jarak juga tempuh dan terkadang keluh yang gaduh merayu sepi untuk tak merasa bosan. 

 Dan kalau boleh, ini kusebut rindu..., di sebuah kata atau semacam sesuara, seperti tawa riang atau tanya ragu yang menyertai itu. 

Ya, itu yang kusebut rindu tapi mungkin beda dibenak orang-orang yang hilang, seperti aku juga 

atau aku terlalu memaksa untuk kusebut rindu.






ke diri, 04022014


gambar dari

PROVOKATOR

usiklah kami dengan mimpi-mimpi,
juga sesumbar janji yang menali khayali,
tentang masa
tentang rasa
di ruangmu yang menyeru
dan serukan kepada mereka;

bagaimana mereka mampu mereka-reka,
berulang dalam ulah kata
juga sejumlah kalimat;
aspirasi itu pasti dan realisasi menunggu nanti

dan apa kata mereka?
lihatlah,
lihat!
tak ada satupun nampak cemberut
atau malah muka palsu kini lebih asli hiasi jalan gambar
atau mereka semua bertopeng senyum.,

O, dimana aku dapatkan topeng senyum?

Agar aku juga ikut tersenyum
dan tentunya kita tertawa bersama

hahaha
28-01-2014
bejo halumajaro

Sepakat Diam



tidak lagi kami berteriak
dalam terik yang membakar
dan tak ada lagi jalanan yang berjelaga,
tak ada di masing-masing
jiwa yang bercengkrama
merapal ruang
dan kami yang dijarah waktu;
menunggu adalah pasti
dan menanti merupakan anugrah
yang menyejarah.

"trah pancen ngunu
arep kepriye maneh?"


dan karena sendiri
adalah ancaman
di sesiapa diri sepi,
itu kami
yang memintal sunyi
bila kesekian jadi saksi
tapi sangsi meresapi
ini opera komedi,
serial tanpa episode

ke diri 05/08/2012

gambar dari

Nok




Salamku buat seseorang*,
Setalah lama memaham tentang jalan yang tidak jua sampai ke ujung, aku mulai tahu? Bahwa yang melingkar itu indah. Tapi mungkin ini hanya prasangkaku saja (dan semoga aku salah duga?). Sebenarnya, aku tahu kalau engkau memang tahu tentang sesuatu yang terkait dan juga harapan akan itu. (maaf, kayaknya nggak perlu aku sebutkan) 
Aku tidak ingin berbelit dalam menuturkan segala permohonan maafku, tapi aku akan sedikit bercerita tentang rembulan yang menjadi saksi. Mungkin bukan saksi bisu, menurutku. Sebab rembulan selalu mendengarku dalam candaku yang sepi. Aku ingat setelah waktu itu, aku sering mengadu kepada rembulan, apalagi di saat purnama. Ya, purnama yang bulat seperti bola matamu. Maaf, aku menyamakan dirimu dengan rembulan yang sebenarnya tidak layak disandingkan dengan dirimu. Karena engkau memang lebih dari rembulan.
Pernah satu waktu aku membawa cermin dan berbilang kepada rembulan di dasar cermin, "Bukankah sama antara aku yang di dasar cermin dengan rembulan itu?" Rembulan sama sekali tak menjawab, tapi juga tidak aku anggap, sebab diamnya rembulan tidak berarti setuju. Aku tahu itu, rembulan pasti takkan menjawab.
Namun aku merasa nyaman di saat rembulan memuncak di bulat purnama karena sesuara itu, ya.. sesuara yang akan terus mengulang, terngiang dalam bentuk sesuara yang telah menjadi file di hati. Sungguh, busuk hatiku menyimpan sesuatu yang bukan milik sendiri. Sekali lagi maafkan aku yang telah berani berkata jujur.
Bukan hanya itu yang aku ingat tentang kisah kita (maaf, mungkin engkau nggak setuju aku sebut ini kisah kita. Tapi tentang sebabnya coba kau bertanya kepada hatimu!) Suatu waktu, betapa kepergiaannya membuat engkau 'setengah tidak terima'. Mungkin kalau engkau bukan 'pilihan' tentunya kau tidak kuat, tapi betapa tegarnya jiwamu, betapa kuat hatimu. Dan sepertinya badai itu hanya bentuk anugrah lain dari Tuhan yang diturunkan untuk menguji kesetiaanmu kepada Tuhan.
Aku masih ingat engkau mengadu tentang dia yang bukan aku. Dan aku coba memahami dia, mencari dan kucoba menemukan bentuknya yang memang beda dengan diriku. Dan dalam bayang samar kutemukan, 'sebentuk' tidak adanya dia dalam diriku. 
Sempat aku menggumam, "Kau dan sebut saja dia dalam bentang khayalmu. Dan tentang aku hanyalah 'ketidaktahudirianku' akan sesuatu yang aku sendiri tidak tahu.' dan kau selalu berdalih, menjawab seakan mengunggulkanku namun hanya menenggelamkan  ketidakpedulian, mungkin. Kau berkata menghilah bahwa "Tentang kesempurnaan yang disandarkan kepada aku yang tak sempurna seperti dirinya." dan memang aku belum bisa sempurna seperti dia.
Entah itu basa-basimu atau memang aku yang tidak pernah bisa seperti dirinya? Tapi aku paham kata-katamu, "Kesempurnaan adalah alasan yang dibuat untuk engkau menjauh, sejauh mungkin dari sekedar mimpi, apalagi suatu harap."
Hmm,... sekali lagi aku tidak bisa menyalahkan dirimu. Sebab memang salah ini hanya karena aku.
Aku tahu apa yang tertulis di atas bukan satu-satunya alasan yang mendekam dalam diamku, juga diammu. Jika sesorang mengatakan bahwa "diam adalah emas", itu mungkin ada benarnya. Dan aku rasa bukan masalah kita yang menjadikan semakin rumit dan bukan masalah 'dia' yang sempat kau ceritakan (semoga lekas engkau ikhlas). Dan bukan pula, 'dia' yang coba kau ajukan untukku. Tapi ini lebih kepada masalah yang tak terbaca sebelumnya. begitu tiba-tiba, tak terduga.
Sekali lagi aku tidak menyalahkan siapa-siapa sebab memang ini salah yang keliru. Engkau tentu tahu beda salah dan keliru?   
Yang jelas aku selalu menyimpan rapat-rapat dalam almari di hatiku. Tentang ini, tentang dia laki-laki dan tentang dia perempuan (yang sempat kau ajukan), semoga menjadi kisah indah.
semoga engkau membaca?
hormatku,

* Teruntuk yang pernah singgah di singgasana kesombongan hati, "aku takkan mengejar sesuatu yang tak mau dikejar dan aku takkan menanti gebu rindu yang membelenggu, membunuhku. Dan itukah dirimu yang membatu? Bertanyalah kepada hatimu,...
_____________________

Ia hela nafas dalam-dalam dan menghempaskan lagi, perlahan-lahan. Seakan dengan itu bisa menentramkan pikiran dan menenangkan hatinya. Berkali-kali ia baca dan memaham tentang isi surat itu. Ya, sebuah surat yang tak beralamat dan tak bertujuan, tapi ia yakin surat itu untuk dirinya.
Pandangannya menerawang seakan mengingat tentang 'kisah' dalam tanda kutip yang disebutkan di surat. "Hmm, ini tentang dia dan si pembuat surat tapi apa yang diinginkan sebenarnya, mengapa dengan menulis surat ini?" Hatinya bergumam. Ia terlihat gelisah.
***
"Aku nggak ngerti apa yang kau inginkan," ia tampak kesal dan menutup pembicaraan HP begitu saja. Dunia yang semula ramai dan indah seperti di taman bunga-bunga, kini tampak jadi sepi, kering dan gersang.
Lamat-lamat ia mengulang, apa yang dibicarakan dengan seseorang tadi. Ditelannya kenangan-kenangan yang semula seakan pasti akan menjadi miliknya.
"Mengapa harus aku?" berkali-kali batinnya menjerit, menerka ketidakadilan Tuhan yang harus ia hadapi sendiri.
"Ada apa denganmu?"
sontak ia kaget, sewaktu bercermin, tiba-tiba sesuara itu terdengar.
"Apakah kau tidak cantik? Apa yang kurang darimu? Kau perempuan yang hebat dan kau dapat meraih itu semua. Tentang dia mengapa kau harus risau? bukankah pernah kau bilang, bila memang berjodoh tidaklah akan lari kemana," lanjut suara itu.
"Tapi mengapa harus aku?"
"Bukankah kau telah membaca surat itu. Benar apa yang dikatakan dia, si pembuat surat; 'Mungkin kalau engkau bukan 'pilihan' tentunya kau tidak kuat, tapi betapa tegar jiwamu, betapa kuat hatimu. Dan sepertinya badai itu hanya bentuk anugrah lain dari Tuhan yang diturunkan untuk menguji kesetiaanmu kepada Tuhan."
"Ah,.. tentang si pembuat surat, apa yang dia tahu tentang aku dan kisah laluku"
Sesuara itu diam. Sesuara yang sesungguhnya adalah pertentangan batinnya sendiri yang bimbang dan dia harus hadapi kenyataan yang begitu tiba-tiba, tak terduga dari yang direncanakan.
"Aku nggak menyesal mengenal dia dan dia," ia berkata sendiri.
***
Berkali-kali ia membaca surat itu dan mencoba membalasnya. Satu kata, dua kata ia coba tuliskan di layar putih monitor, lalu ia hapus lagi dan ia buat lagi dan hapus lagi. Begitu ia lakukan berulang-ulang. Ia mengulang semua kejadian yang terekam dibenak. Meruntut satu persatu peristiwa dan suasana yang begitu tak terduga.
Semula yang berjalan tampak indah dan begitu mempesona ternyata harus diikhlaskan begitu saja. Beransur kisah itu berbalik arah dan menjerat ketidakjelasan hidup.
"Yang nggak jelas itu siapa? Mengapa engkau harus risau. Berpikir yang pasti-pasti saja dan jangan salah duga yang nggak-nggak." batinnya menggerutu.
"Kenapa pula kadang kau ikut campur? ini urusanku dengan dia," batinnya kesal dan menghapus lagi catatan yang ia buat untuk membalas surat itu.
"Kau tentunya tahu kalau ternyata hati ini bukan memilihmu dan bukan milikmu" dia agak kesal dengan permainan kata-kata diotaknya. Dan ia menggumam, "Salah siapa kau berani berkata jujur kalau ternyata aku tidak memilihmu, kau mau bilang apa?"
Ia kembali tercenung, merenungkan apa yang baru saja ia ucapkan. Dan dalam pikirannya  kembali berkata, "Tapi benar juga, dia yang begitu rela mau berkata kepada orang yang aku cintai, mau minta izin kepadanya untuk mendekat kepadaku. Ah,.. tapi kalau aku nggak mau apa yang dia mau. Memaksaku, menyeret aku ke dia. haaaccchhhh"
"Ya, aku tahu karena memang semua milik-Nya," sesuara itu kembali menyahut dan sesuara yang agak memberat melanjutkan kata, "Jika memang ini karena kesombonganku, yang berani berkata jujur dan bila ini adalah permainanmu maka apa yang harus dipikirkan." Sepertinya Ia tak kuasa menahan hangat mata dan airmata mengalir tanpa diminta.
Ia teringat masa lalu bersama seseorang yang telah berlalu. "Oh,.. dia yang berwibawa telah menjadi milik seseorang. Dia memang pilihan tapi bukan terpilih untukku. Aku tahu dia orang yang patuh sampai sang Guru menitahkan untuk menikah, dia melakukannya."
***
Meski tangis tak bisa menyelesaikan masalah, tapi mengapa tangis selalu mengiringi  hidup, kadang senang juga diiringi tangis. Kebahagiaan macam apa yang seharusnya dicari oleh perempuan semacam aku. Ataukah kesedihan yang memberangus, memporakporandakan kenyataan yang memang seharusnya aku jalani. Dalam bayang-bayang tangisannya, dengan sesenggukan ia ingat dawuh ibu, “Nok…, kala berkurang apa yang membuatmu senang, maka kuranglah pula apa yang engkau sedihkan”
Rasanya dawuh itu terngiyang dan berdenging di hati, membidik kesendirianku dalam tangis. “Kesedihan macam apa yang aku lakukan, dia tetap tak mendengar, buat apa bersedih. Nok, kamu harus kuat. Nok, kamu harus tegar,” ia berbicara sendiri, menguatkan batinnya.
“Jika dia telah melupakan aku, mengapa aku harus mengingatnya. Bila dia telah meninggalkanku mengapa aku harus menunggunya. kala dia bukan untukku mengapa dipikirkan?”
Ia kembali mengingat-ingat kata yang pernah ia dengar dari dia - yang menulis surat - ketika awal bertemu, sebuah pertanyaan yang tak pernah ia jawab, “Lebih baik mana dicintai atau mencintai?”
Dan ia kembali terngiang sesuara ibunya, dawuh yang merasuki hatinya, “Nok, orang yang tidak mengetahui nilai nikmat tatkala memperolehnya, ia akan mengetahui tatkala lepas darinya” 
“ Tapi mengapa aku, mengapa dia?”
:
Gambar dari

Angin Kinanah



bagaimana kabarmu, kawan...?
kabari aku tentang udara atau debu yang beradu di peluh lingkar waktumu dan dihitungan ruang yang memenjara, kabari juga aku tentang beda sesuatu di lintang dan bujur yang jujur memetakan jiwa
kabari aku, kawan...!
kabari aku akan sungai yang seperti naga raksasa dan katanya bermata air dari surga...? bukankah begitu, kawan?
kabari aku, kawan...!
kabari aku tentang tanah di bawah laut merah yang hanya sekali di jenguk matahari kala dulu laut dibelah Musa... masihkah aroma dan rasa airnya anyir darah? dan kabari pula aku, kawan! atas limas Giza yang pulas dipelukan abadi badai sahara... dengan penjaga-penjaganya yang setia menjelma singa berkepala manuisa
kabari aku, kawan...!
tentang indahnya gunung penyaksi sepuluh perintah suci,
tentang negeri seribu menara dan seribu kubah di bawah cerah langit qohirah
atau tentang matahari dan rembulan yang selalu bercinta di atas dermaga alexandria,
kabari aku, kawan...!
kabari aku tentang kanal yang tak kenal angin sakal dan tak pernah kesal dalam jejal lalu lalang nahkoda-nahkoda yang dahaga akan daratan.
kabari pula aku, kawan! kabari aku akan makam-makam suci pemuja matahari dan makam orang-orang yang disucikan karena nasyrul ilmi
kabari aku, kawan...!
kabari aku tentang gegemuruh pasukan tartar yang tak pernah sanggup patahkan busur ardhul kinanah
dan kau melesat bagai anak panah...
__________________
Kediri, 25 Desember 2009

bersambung untuk kabarku darimu to : Ahmad Muhakkam El Zein

Orang Itu





"Orang pegunungan biasanya suka pergi ke pantai dan orang pesisir biasanya gemar naik gunung," begitu jawab orang itu menerangkan tentang prinsip hidupnya dalam mencari jodoh. Jawaban yang simpel tapi bikin kepala mendidih. "Ah, aku menanak omongan yang tidak sambung," batinku.

Orang-orang yang diajaknya ngobrol di kedai ini pun tampak kelihatan bingung. Hanya mendengarkan dan meng-iya-kan apa yang orang itu omongkan. Sedari tadi aku sudah merasakan kejanggalan tentang itu. Terlihat dari mimik wajah mereka berlima yang duduk di kedai ini, termasuk aku.

"Kang Sholeh, apa tidak baiknya kamu segera ke ladang. Itu lho, ikut membantu temanmu, yang kayaknya sudah kepanasan sejak tadi," Kata lek Jo menyela kepadaku. Sepertinya lek Jo tahu kalau aku sedang mencari cara untuk menghentikan ngobrolanku dengan orang itu.
"Sebentar, Lek," jawabku singkat.

"Jadi gini, Kang. Kalau kamu mencari pekerjaan tentunya sesuaikan dengan apa yang menjadi bidang kamu. Kamu kan santri seharusnya kamu menjadi Kiai atau minimal ustadz kayak di TV itu," lanjut orang itu sambil menatapku.

Lek Jo yang sedari tadi mendengarkan obrolan-obrolan kami kemudian menyahut, "Wah, ya tidak bisa begitu, Mas. Seorang santri harus bisa apa saja. Tidak melulu harus jadi Kiai. Santri harus mampu menjadi apa saja. Kalau menurut aku, santri harus mewarnai kehidupan di segala bidang." Sepertinya Lek Jo sedikit bosan dengan obrolan orang itu yang di mulai dari kiat-kiat mencari jodoh, penerapan gaya hidup sampai bagaimana santri mencari pekerjaan. Nada bicara lek Jo yang agak memberat dan sedikit terdengar mengetar menandakan lain dari bagaimana biasanya lek Jo berbicara. ada apa ini?

"Lho kalau aku lihat, terjadi sedikit kekeliruan dengan adanya kang-kang santri yang sepertinya kurang terima dengan apa yang telah dipelajarinya. Saya bilang keliru lho, Lek. Bukan satu kesalahan." lanjut orang itu menegaskan.

"Mereka bukan keliru, juga bukan salah. Mungkin mereka mencari jatidiri dan masing-masing mereka menempuhnya di jalan masing-masing," balas lek Jo.

Orang itu sedikit membelokkan tubuhnya dengan me-matrap-kan duduknya untuk menghadap padang ke lek Jo dan orang itu berkata, "Maksud saya juga itu, Lek. Ya, kan seharusnya seorang santri itu menjadi Kiai."

"Eh, Mas. Anda tahu toh kalau Kiai itu bukan gelar yang seperti sarjana, doktor, atau profersor dan lain-lainnya. Kata "kiai" disematkan pada nama seseorang, itu berarti orang tersebut telah mengabdi di masyarakat dalam bidang keagamaan. Jadi tidak bisa seenaknya seseorang itu menyandangkan sendiri gelar itu kepada dirinya," tegas Kang Ahmad dan ia melanjutkan, "Seorang anak kiaipun kalau tidak bisa membawa masyarkatnya menuju kebaikan patut dipertaruhkan, apa dia pantas menyandang gelar itu?"

"Wah, saya nggak mau tahu kalau masalah itu, Kang" Jawab orang itu sambil menoleh ke kang Ahmad. "Yang sama pahami selama ini, santri-santri pada lari dari kenyataannya sebagai pelayan umat. Maksud saya, buat apa mondok lama-lama kalau tidak mau memberikan sedikit ilmunya kepada masyarakat sekitar. Saya katakan santri harus menjadi Kiai supaya Kang-kang santri seperti kalian bersemangat untuk berbagi kepada orang-orang seperti saya yang kurang mengajinya. Karena aku lihat, hanya para kiai yang tulus memberikan itu. Tapi yang menjadi pertanyaan saya, Kiai yang bagaimana itu?" Lanjut orang itu.

"Mas, yang sampean ucapkan sepertinya sama dengan omongan kang Ahmad. Cuma, mungkin beda bahasa," sela lek Jo.

"Mungkin begitu, Lek. Saya hanya menggambarkan keadaan yang nyata sekarang ini di luar pesantren. Bolehlah santri berkembang di bidang usaha masing-masing tapi tetap harus mengabdi di bidang keilmuan agama, Eman-eman sing mondok." kata orang itu.

"Namun kalau menurutku, tetap; santri tidak harus jadi Kiai. Karena yang menyandangkan gelar itu bukan diri sendiri tapi orang lain," sambung kang Ahmad

"Aku setuju saja, yang terpenting jangan sampai kiai seperti DPR yang telah berubah bentuk menjadi sebuah profesi alias pekerjaan dan kita lihat 'kan? DPR sekarang ini bukan lagi berupa pengabdian kepada masyarakat," jawab orang itu.

"Ya, sebab kiai bukan pekerjaan tapi pengabdian, " sahut lek Jo.

Orang-orang yang lain di Kedai ini mengangguk, seakan meng-iya-kan apa yang diucapkan lek Jo. Termasuk aku juga. Tapi aku berfikir keras siapa orang itu yang sejak tadi mengobrol denganku. Dan aku hanyut dalam pembicaraan yang mengalir. "Obrolan yang terakhir, apa hubungannya dengan Orang Gunung dan Orang Pantai?," Pikirku. Dan saat aku hendak bertanya:

"Leh, jadi kerja tidak?" teriak kang Utsman di luar kedai mengagetkanku.

"Dari tadi tongkrong di warung, terus kapan kerjanya?"

Ke Diri, Oktober
gambar klik disini

sebuah surat yang tak pernah terbaca


salamku buat seseorang*,

Setalah lama memaham tentang jalan yang tidak jua sampai ke ujung, aku mulai tau? Bahwa yang melingkar itu indah. Tapi mungkin ini hanya prasangkaku saja (dan semoga aku salah duga?). Dan Aku tau kalau engkau memang tau. Tentang sesuatu (maaf, kayaknya nggak perlu aku sebutkan) yang terkait dan juga harapan akan itu. 

 Aku tidak ingin berbelit dalam menuturkan segala permohonan maafku, tapi aku akan sedikit bercerita tentang rembulan yang menjadi saksi. Mungkin bukan saksi bisu, menurutku. Sebab rembulan selalu mendengarkanku dalam canda yang sepi. Aku ingat setelah waktu itu, aku sering mengadu kepada rembulan, apalagi di saat purnama. Ya, purnama yang bulat seperti bola matamu. Maaf, aku menyamakan dirimu dengan rembulan yang sebenarnya tidak layak disandingkan dengan dirimu. Kau memang lebih daripada rembulan. 

 Pernah satu waktu aku membawa cermin dan berbilang kepada rembulan, "bukankah sama antara aku yang di dasar cermin dengan rembulan itu?" Rembulan sama sekali tak menjawab, tapi juga tidak aku anggap, sebab diamnya rembulan tidak berarti setuju.

 Aku tau itu, rembulan pasti takkan menjawab.

 Namun aku merasa nyaman disaat rembulan memuncak di bulat purnama. karena sesuara itu, ya.. sesuara yang akan terus mengulang, terngiang dalam bentuk sesuara yang telah menjadi file di hati. sungguh busuk hatiku menyimpan sesuatu yang bukan milik sendiri. sekali lagi maafkan aku yang telah berani berkata jujur.

 Bukan hanya itu yang aku ingat tentang kisah kita (mungkin engkau nggak setuju, aku sebut ini kisah kita. Tapi tentang sebabnya coba kau bertanya kepada hatimu!) suatu waktu, betapa kepergiaannya membuat engkau 'setengah tidak terima'. Mungkin kalau engkau bukan 'pilihan' tentunya kau tidak kuat, tapi betapa tegarnya jiwamu. Dan sepertinya badai hanya bentuk anugrah lain dari Tuhan yang diturunkan untuk menguji kesetiaanmu kepada Tuhan. 

 Aku masih ingat engkau mengadu tentang dia yang bukan aku. Dan aku coba memahami dia, mencari dan coba menemukan bentuknya yang memang beda dengan diriku. Dan dalam bayang samar kutemukan, 'sebentuk' tidak adanya ia dalam diriku.  

 Sempat aku menggumam, "kau dan sebut saja ia dalam bentang khayalmu. Dan tentang aku hanyalah 'ketidaktahu-dirianku' akan sesuatu yang aku sendiri tidak tahu.' dan kau selalu berdalih, menjawab seakan mengunggulkan namun hanya menenggelamkan  ketidakpedulian, mungkin. kau berkata mengkhilah bahwa "Tentang kesempurnaan yang disandarkan kepada aku yang tak sempurna seperti dirinya"
  
Entah itu basa-basimu atau memang aku yang tidak pernah bisa seperti dirinya? Tapi aku paham kata-katamu, "Kesempurnaan adalah alasan yang dibuat untuk engkau menjauh, sejauh mungkin dari sekedar mimpi, apalagi suatu harap" 

 hmm,... sekali lagi aku tidak bisa menyalahkan dirimu sebab memang salah ini hanya karena aku. Dan aku tahu apa yang tertulis di atas bukan satu-satunya alasan yang mendekam dalam diamku, juga diammu.

 Jika sesorang mengatakan bahwa "diam adalah emas", itu mungkin ada benarnya. dan aku rasa bukan masalah kita yang menjadikan semakin rumit dan bukan masalah 'dia' yang sempat kau ceritakan (semoga lekas engkau ikhlas). Dan bukan pula, 'dia' yang coba kau ajukan untukku. Tapi ini lebih kepada masalah yang tak terbaca sebelumnya. begitu tiba-tiba tak terduga.

 Sekali lagi aku tidak menyalahkan siapa-siapa sebab memang ini salah yang keliru. Engkau tentu tahu beda salah dan keliru?    

 Yang jelas aku selalu menyimpan rapat-rapat dalam lemari di hatiku. Tentang ini, tentang dia laki-laki dan tentang dia perempuan, semoga menjadi kisah indah.

 semoga engkau membaca?

 * Teruntuk yang pernah singgah di singgasana kesombongan hati, "aku takkan mengejar sesuatu yang tak mau dikejar dan aku takkan menanti gebu rindu yang membelenggu, membunuhku. Dan itukah dirimu yang membatu? Bertanyalah kepada hatimu,...


hormatku, 

Sebuah Cerpen Singkat dan Balasan: Sebuah Cerpen Singkat

Sempat aku bercerita kepada dia yang mengikutiku saat aku bertemu cahaya di ujung lorong ini. " Mengapa juga kau selalu mengikutiku," Tanyaku seketika mengagetkannya. Dia terdiam, menunduk sama juga aku. Aku mulai menerka apa yang dia diamkan.

Dalam benakku dia mulai menyahut,

"Kau tahu cahaya yang ada di depanmu membuat aku merasa lahir kembali. Seperti halnya khayalanmu tentang dia. Kau tahu tentang dia, tentunya?"

"Ah, kau tahu apa tentang dia yang aku inginkan," Tanyaku.

"Buka begitu maksudku, coba kau jernihkan dulu pikiranmu. Mengenai 'dia'. Dia yang bukan aku atau kau hanya akan merasakan itu; hanya dalam khayalan," jawabnya.

"Hmm, lalu apa kita tidak merasakan dulu tentang dia, walau hanya dalam khayalan," sahutku sambil berlalu.

Dia tidak menyahut, berlalu begitu saja sama seperti aku yang semakin menuju cahaya.

Aku kadang silau dengan cahaya. Tak mampu menangkap terangnya.Ada keindahan tersendiri di dalam partikel-partikel sinar yang tidak dapat aku bayangkan.

"Coba kau lihat dirimu, selalu memicingkan mata bila bertemu cahaya, " kata dia yang tiba2 saja sudah ada di dekatku.

"Hei, kau mengagetkanku. Tapi apa daya bila kau juga selalu muncul ketika aku bertemu cahaya. kau memata-mataiku"

"Kau jangan salah sangka, mungkin aku datang sebagai penyeimbang bagi ketidakberdayaanmu"

"Ketidakberdayaan apa? Tapi mengapa kau selalu mengikutiku,"

lagi-lagi dia tak menjawab, berlalu begitu saja sama seperti berlalunya aku melintasi cahaya itu.

aku mulai suntuk kepada dia, sepertinya dia mengganggu, menghantuiku jika aku melihat cahaya. Ingin aku sekali waktu beradu argumen "mengapa dia mengikutiku" atau kalau perlu mengajaknya berkelahi.  Setiap kali aku bertanya tentang itu, dia selalu diam terpaku pada ketidakpedulian pertanyaanku dan akan menghindar bila aku juga menghindari cahaya.

"APA YANG DIA MAU?"

kadang huruf besar yang di-bold menegasi tentang apa perkara yang dihadapi. Seperti penulisan dengan di-stabilo sebagai pengingat pada satu hal yang  pernah kita membaca baris itu. Tapi ini kelihatanyanya beda, aku merasakan ketidakmampuanku menerjemahkan dia yang hanya menjadi khayalanku.

"Jangan terlalu banyak berkhayal, tidak baik untuk masa depanmu dengan dia," katanya yang seketika itu muncul tiba2 ketika aku ada di dekat cahaya.

 Aku ingin menghardik dia, "hey.. apa maumu?"

****

"Apa yang dia mau,"  seperti itu katamu. Aku tahu kau merasakan ketidakbisaan menjelajah tanpa adanya aku. Memang benar, aku selalu hadir ketika kau mendekati cahaya. Tapi aku tidak mengganggu-mu sebab aku tak ada di depanmu, tidak menghalangimu. Aku hadir hanya di belakangmu, jauh hanya melihatmu ketika kau berhadapan dengan cahaya.

"Apa yang dia mau," jelas itu katamu. Kata yang meragukan dirimu sendiri. Disini aku hanya bisa melihatmu bahkan aku diam ketika dirimu bicara, aku hanya mendengarkan. Kau juga tahu kalau aku tidak bisa meninggalkan dirimu. Tapi sekali lagi, aku tidak mengganggumu.

"Jangan kau salahkan dia," mungkin itu yang harus dikaji ulang atau didaur ulang dalam otakmu. Sebutlah aku yang menggangu dan jangan salahkan dia. Karena aku tahu dia tidak salah. Kesalahan-kjesalahan kadang membuat dirimu terperangkap dalam lekuk ketidakbedayaanmu. aku tahu itu, sebab aku bagian dari jiwamu. "hah,.. Jiwa yang kering," itu kalau boleh aku katakan terhadap dirimu dan aku tahu kau ragu bukan tak mau.

pernah kau katakan, "Cahaya yang menyelubungi "dia" pasti akan membuat semua kelopak mata merapatkan pandang dan pupil hanya mengintip di balikya." Apa yang kau maksud dengan kata-kata itu?  Jelas, ketidakberaniannmu sama seperti ketidakjelasanmu menjelaskan: APA YANG KAMU MAU.

Karena aku hanya bayanganmu, maka apa kau juga tahu ketika aku juga rindu bertemu cahaya.

ke diri Oktober/2011 (ofaCentrum)

.