Orang Itu





"Orang pegunungan biasanya suka pergi ke pantai dan orang pesisir biasanya gemar naik gunung," begitu jawab orang itu menerangkan tentang prinsip hidupnya dalam mencari jodoh. Jawaban yang simpel tapi bikin kepala mendidih. "Ah, aku menanak omongan yang tidak sambung," batinku.

Orang-orang yang diajaknya ngobrol di kedai ini pun tampak kelihatan bingung. Hanya mendengarkan dan meng-iya-kan apa yang orang itu omongkan. Sedari tadi aku sudah merasakan kejanggalan tentang itu. Terlihat dari mimik wajah mereka berlima yang duduk di kedai ini, termasuk aku.

"Kang Sholeh, apa tidak baiknya kamu segera ke ladang. Itu lho, ikut membantu temanmu, yang kayaknya sudah kepanasan sejak tadi," Kata lek Jo menyela kepadaku. Sepertinya lek Jo tahu kalau aku sedang mencari cara untuk menghentikan ngobrolanku dengan orang itu.
"Sebentar, Lek," jawabku singkat.

"Jadi gini, Kang. Kalau kamu mencari pekerjaan tentunya sesuaikan dengan apa yang menjadi bidang kamu. Kamu kan santri seharusnya kamu menjadi Kiai atau minimal ustadz kayak di TV itu," lanjut orang itu sambil menatapku.

Lek Jo yang sedari tadi mendengarkan obrolan-obrolan kami kemudian menyahut, "Wah, ya tidak bisa begitu, Mas. Seorang santri harus bisa apa saja. Tidak melulu harus jadi Kiai. Santri harus mampu menjadi apa saja. Kalau menurut aku, santri harus mewarnai kehidupan di segala bidang." Sepertinya Lek Jo sedikit bosan dengan obrolan orang itu yang di mulai dari kiat-kiat mencari jodoh, penerapan gaya hidup sampai bagaimana santri mencari pekerjaan. Nada bicara lek Jo yang agak memberat dan sedikit terdengar mengetar menandakan lain dari bagaimana biasanya lek Jo berbicara. ada apa ini?

"Lho kalau aku lihat, terjadi sedikit kekeliruan dengan adanya kang-kang santri yang sepertinya kurang terima dengan apa yang telah dipelajarinya. Saya bilang keliru lho, Lek. Bukan satu kesalahan." lanjut orang itu menegaskan.

"Mereka bukan keliru, juga bukan salah. Mungkin mereka mencari jatidiri dan masing-masing mereka menempuhnya di jalan masing-masing," balas lek Jo.

Orang itu sedikit membelokkan tubuhnya dengan me-matrap-kan duduknya untuk menghadap padang ke lek Jo dan orang itu berkata, "Maksud saya juga itu, Lek. Ya, kan seharusnya seorang santri itu menjadi Kiai."

"Eh, Mas. Anda tahu toh kalau Kiai itu bukan gelar yang seperti sarjana, doktor, atau profersor dan lain-lainnya. Kata "kiai" disematkan pada nama seseorang, itu berarti orang tersebut telah mengabdi di masyarakat dalam bidang keagamaan. Jadi tidak bisa seenaknya seseorang itu menyandangkan sendiri gelar itu kepada dirinya," tegas Kang Ahmad dan ia melanjutkan, "Seorang anak kiaipun kalau tidak bisa membawa masyarkatnya menuju kebaikan patut dipertaruhkan, apa dia pantas menyandang gelar itu?"

"Wah, saya nggak mau tahu kalau masalah itu, Kang" Jawab orang itu sambil menoleh ke kang Ahmad. "Yang sama pahami selama ini, santri-santri pada lari dari kenyataannya sebagai pelayan umat. Maksud saya, buat apa mondok lama-lama kalau tidak mau memberikan sedikit ilmunya kepada masyarakat sekitar. Saya katakan santri harus menjadi Kiai supaya Kang-kang santri seperti kalian bersemangat untuk berbagi kepada orang-orang seperti saya yang kurang mengajinya. Karena aku lihat, hanya para kiai yang tulus memberikan itu. Tapi yang menjadi pertanyaan saya, Kiai yang bagaimana itu?" Lanjut orang itu.

"Mas, yang sampean ucapkan sepertinya sama dengan omongan kang Ahmad. Cuma, mungkin beda bahasa," sela lek Jo.

"Mungkin begitu, Lek. Saya hanya menggambarkan keadaan yang nyata sekarang ini di luar pesantren. Bolehlah santri berkembang di bidang usaha masing-masing tapi tetap harus mengabdi di bidang keilmuan agama, Eman-eman sing mondok." kata orang itu.

"Namun kalau menurutku, tetap; santri tidak harus jadi Kiai. Karena yang menyandangkan gelar itu bukan diri sendiri tapi orang lain," sambung kang Ahmad

"Aku setuju saja, yang terpenting jangan sampai kiai seperti DPR yang telah berubah bentuk menjadi sebuah profesi alias pekerjaan dan kita lihat 'kan? DPR sekarang ini bukan lagi berupa pengabdian kepada masyarakat," jawab orang itu.

"Ya, sebab kiai bukan pekerjaan tapi pengabdian, " sahut lek Jo.

Orang-orang yang lain di Kedai ini mengangguk, seakan meng-iya-kan apa yang diucapkan lek Jo. Termasuk aku juga. Tapi aku berfikir keras siapa orang itu yang sejak tadi mengobrol denganku. Dan aku hanyut dalam pembicaraan yang mengalir. "Obrolan yang terakhir, apa hubungannya dengan Orang Gunung dan Orang Pantai?," Pikirku. Dan saat aku hendak bertanya:

"Leh, jadi kerja tidak?" teriak kang Utsman di luar kedai mengagetkanku.

"Dari tadi tongkrong di warung, terus kapan kerjanya?"

Ke Diri, Oktober
gambar klik disini

sebuah surat yang tak pernah terbaca


salamku buat seseorang*,

Setalah lama memaham tentang jalan yang tidak jua sampai ke ujung, aku mulai tau? Bahwa yang melingkar itu indah. Tapi mungkin ini hanya prasangkaku saja (dan semoga aku salah duga?). Dan Aku tau kalau engkau memang tau. Tentang sesuatu (maaf, kayaknya nggak perlu aku sebutkan) yang terkait dan juga harapan akan itu. 

 Aku tidak ingin berbelit dalam menuturkan segala permohonan maafku, tapi aku akan sedikit bercerita tentang rembulan yang menjadi saksi. Mungkin bukan saksi bisu, menurutku. Sebab rembulan selalu mendengarkanku dalam canda yang sepi. Aku ingat setelah waktu itu, aku sering mengadu kepada rembulan, apalagi di saat purnama. Ya, purnama yang bulat seperti bola matamu. Maaf, aku menyamakan dirimu dengan rembulan yang sebenarnya tidak layak disandingkan dengan dirimu. Kau memang lebih daripada rembulan. 

 Pernah satu waktu aku membawa cermin dan berbilang kepada rembulan, "bukankah sama antara aku yang di dasar cermin dengan rembulan itu?" Rembulan sama sekali tak menjawab, tapi juga tidak aku anggap, sebab diamnya rembulan tidak berarti setuju.

 Aku tau itu, rembulan pasti takkan menjawab.

 Namun aku merasa nyaman disaat rembulan memuncak di bulat purnama. karena sesuara itu, ya.. sesuara yang akan terus mengulang, terngiang dalam bentuk sesuara yang telah menjadi file di hati. sungguh busuk hatiku menyimpan sesuatu yang bukan milik sendiri. sekali lagi maafkan aku yang telah berani berkata jujur.

 Bukan hanya itu yang aku ingat tentang kisah kita (mungkin engkau nggak setuju, aku sebut ini kisah kita. Tapi tentang sebabnya coba kau bertanya kepada hatimu!) suatu waktu, betapa kepergiaannya membuat engkau 'setengah tidak terima'. Mungkin kalau engkau bukan 'pilihan' tentunya kau tidak kuat, tapi betapa tegarnya jiwamu. Dan sepertinya badai hanya bentuk anugrah lain dari Tuhan yang diturunkan untuk menguji kesetiaanmu kepada Tuhan. 

 Aku masih ingat engkau mengadu tentang dia yang bukan aku. Dan aku coba memahami dia, mencari dan coba menemukan bentuknya yang memang beda dengan diriku. Dan dalam bayang samar kutemukan, 'sebentuk' tidak adanya ia dalam diriku.  

 Sempat aku menggumam, "kau dan sebut saja ia dalam bentang khayalmu. Dan tentang aku hanyalah 'ketidaktahu-dirianku' akan sesuatu yang aku sendiri tidak tahu.' dan kau selalu berdalih, menjawab seakan mengunggulkan namun hanya menenggelamkan  ketidakpedulian, mungkin. kau berkata mengkhilah bahwa "Tentang kesempurnaan yang disandarkan kepada aku yang tak sempurna seperti dirinya"
  
Entah itu basa-basimu atau memang aku yang tidak pernah bisa seperti dirinya? Tapi aku paham kata-katamu, "Kesempurnaan adalah alasan yang dibuat untuk engkau menjauh, sejauh mungkin dari sekedar mimpi, apalagi suatu harap" 

 hmm,... sekali lagi aku tidak bisa menyalahkan dirimu sebab memang salah ini hanya karena aku. Dan aku tahu apa yang tertulis di atas bukan satu-satunya alasan yang mendekam dalam diamku, juga diammu.

 Jika sesorang mengatakan bahwa "diam adalah emas", itu mungkin ada benarnya. dan aku rasa bukan masalah kita yang menjadikan semakin rumit dan bukan masalah 'dia' yang sempat kau ceritakan (semoga lekas engkau ikhlas). Dan bukan pula, 'dia' yang coba kau ajukan untukku. Tapi ini lebih kepada masalah yang tak terbaca sebelumnya. begitu tiba-tiba tak terduga.

 Sekali lagi aku tidak menyalahkan siapa-siapa sebab memang ini salah yang keliru. Engkau tentu tahu beda salah dan keliru?    

 Yang jelas aku selalu menyimpan rapat-rapat dalam lemari di hatiku. Tentang ini, tentang dia laki-laki dan tentang dia perempuan, semoga menjadi kisah indah.

 semoga engkau membaca?

 * Teruntuk yang pernah singgah di singgasana kesombongan hati, "aku takkan mengejar sesuatu yang tak mau dikejar dan aku takkan menanti gebu rindu yang membelenggu, membunuhku. Dan itukah dirimu yang membatu? Bertanyalah kepada hatimu,...


hormatku, 

Sebuah Cerpen Singkat dan Balasan: Sebuah Cerpen Singkat

Sempat aku bercerita kepada dia yang mengikutiku saat aku bertemu cahaya di ujung lorong ini. " Mengapa juga kau selalu mengikutiku," Tanyaku seketika mengagetkannya. Dia terdiam, menunduk sama juga aku. Aku mulai menerka apa yang dia diamkan.

Dalam benakku dia mulai menyahut,

"Kau tahu cahaya yang ada di depanmu membuat aku merasa lahir kembali. Seperti halnya khayalanmu tentang dia. Kau tahu tentang dia, tentunya?"

"Ah, kau tahu apa tentang dia yang aku inginkan," Tanyaku.

"Buka begitu maksudku, coba kau jernihkan dulu pikiranmu. Mengenai 'dia'. Dia yang bukan aku atau kau hanya akan merasakan itu; hanya dalam khayalan," jawabnya.

"Hmm, lalu apa kita tidak merasakan dulu tentang dia, walau hanya dalam khayalan," sahutku sambil berlalu.

Dia tidak menyahut, berlalu begitu saja sama seperti aku yang semakin menuju cahaya.

Aku kadang silau dengan cahaya. Tak mampu menangkap terangnya.Ada keindahan tersendiri di dalam partikel-partikel sinar yang tidak dapat aku bayangkan.

"Coba kau lihat dirimu, selalu memicingkan mata bila bertemu cahaya, " kata dia yang tiba2 saja sudah ada di dekatku.

"Hei, kau mengagetkanku. Tapi apa daya bila kau juga selalu muncul ketika aku bertemu cahaya. kau memata-mataiku"

"Kau jangan salah sangka, mungkin aku datang sebagai penyeimbang bagi ketidakberdayaanmu"

"Ketidakberdayaan apa? Tapi mengapa kau selalu mengikutiku,"

lagi-lagi dia tak menjawab, berlalu begitu saja sama seperti berlalunya aku melintasi cahaya itu.

aku mulai suntuk kepada dia, sepertinya dia mengganggu, menghantuiku jika aku melihat cahaya. Ingin aku sekali waktu beradu argumen "mengapa dia mengikutiku" atau kalau perlu mengajaknya berkelahi.  Setiap kali aku bertanya tentang itu, dia selalu diam terpaku pada ketidakpedulian pertanyaanku dan akan menghindar bila aku juga menghindari cahaya.

"APA YANG DIA MAU?"

kadang huruf besar yang di-bold menegasi tentang apa perkara yang dihadapi. Seperti penulisan dengan di-stabilo sebagai pengingat pada satu hal yang  pernah kita membaca baris itu. Tapi ini kelihatanyanya beda, aku merasakan ketidakmampuanku menerjemahkan dia yang hanya menjadi khayalanku.

"Jangan terlalu banyak berkhayal, tidak baik untuk masa depanmu dengan dia," katanya yang seketika itu muncul tiba2 ketika aku ada di dekat cahaya.

 Aku ingin menghardik dia, "hey.. apa maumu?"

****

"Apa yang dia mau,"  seperti itu katamu. Aku tahu kau merasakan ketidakbisaan menjelajah tanpa adanya aku. Memang benar, aku selalu hadir ketika kau mendekati cahaya. Tapi aku tidak mengganggu-mu sebab aku tak ada di depanmu, tidak menghalangimu. Aku hadir hanya di belakangmu, jauh hanya melihatmu ketika kau berhadapan dengan cahaya.

"Apa yang dia mau," jelas itu katamu. Kata yang meragukan dirimu sendiri. Disini aku hanya bisa melihatmu bahkan aku diam ketika dirimu bicara, aku hanya mendengarkan. Kau juga tahu kalau aku tidak bisa meninggalkan dirimu. Tapi sekali lagi, aku tidak mengganggumu.

"Jangan kau salahkan dia," mungkin itu yang harus dikaji ulang atau didaur ulang dalam otakmu. Sebutlah aku yang menggangu dan jangan salahkan dia. Karena aku tahu dia tidak salah. Kesalahan-kjesalahan kadang membuat dirimu terperangkap dalam lekuk ketidakbedayaanmu. aku tahu itu, sebab aku bagian dari jiwamu. "hah,.. Jiwa yang kering," itu kalau boleh aku katakan terhadap dirimu dan aku tahu kau ragu bukan tak mau.

pernah kau katakan, "Cahaya yang menyelubungi "dia" pasti akan membuat semua kelopak mata merapatkan pandang dan pupil hanya mengintip di balikya." Apa yang kau maksud dengan kata-kata itu?  Jelas, ketidakberaniannmu sama seperti ketidakjelasanmu menjelaskan: APA YANG KAMU MAU.

Karena aku hanya bayanganmu, maka apa kau juga tahu ketika aku juga rindu bertemu cahaya.

ke diri Oktober/2011 (ofaCentrum)

Julia; jika waktumu tiba


anggaplah mereka batu, atau rumput
atau sesuatu lain yang tak kau anggap
lalu anggaplah mereka teman sendiri
dalam canda riang kebersamaanmu
dalam berbagi ruang juga waktu
dan jika waktumu tiba
kau akan nikmati; mereka
adalah dirimu sendiri!

ke diri, 14/10/2011

flashback : Aku masih ingat, betapa semangat mengobar kuat dalam liku jalanmu, sesaat saat kau ucap penggalan kata di atas (dengan versimu). Seakan tak ada yang merintangi dalam jiwa mudamu. "Semua itu mudah jika kamu mau belajar dan merubah dirimu sendiri," katamu waktu itu. Aku masih ingat celoteh yang hiasi tiap sukadukamu, yang terlihat tanpa beban, tanpa dirasa. "Kau tahu, jika mau mencoba semua akan kau dapati sebab semua itu akan menjadi biasa," lanjutmu. aku masih ingat meski aku tak tahu nama aslimu. Dan aku masih ingat saat Surabaya menyesatkanku dalam lipatan jalan-jalan yang terlipat tak rapi dan gedung-gedung yang mengepung, serta kebisingan tiada henti di sana-sini dan sepertinya itu saat terakhir kau tunjukkan aku jalan yang benar...

Terima kasih, Kawan. Tiada tanda terimakasihku yang lebih dari sekedar doa selamatku kepadamu.
Selamat jalan, Jul. (al Fatihah)

atribute to Julia (http://www.facebook.com/julya.karenhorney)

Tersisih (di balik layar)



Perhatikan kalau belum bisa, hehehe...
sebuah proses panjang dan semoga menyusul yang berikutnya, 2011 in action

Skenario Tersisih (Mentah)

behind the scene : http://youtu.be/9E3hmjoNsEw



Scene 1 Lobi Radio swasta
Interior  Kesibukan radio siang.
Cast Yeni, Cika, Radit, dan beberapa figuran.

Cika datang ke Kantor eL-Radio. Di Depan Kantor bertemu dengan pak Rudi (pemilik Radio) yang mau menaiki mobilnya.
Cika dari depan ruang. Radit dari ruang belakang. Yeni sedang menerima tamu, calon pemasang iklan.

Tamu    : “Wah jangan di sini, Mbak ?” (sambil menunjuk pada lembaran kertas)
Yeni    : “On-Airnya Prime Time looo, Pak”
Tamu    : “Jangan, Mbak. Produk kami untuk remaja modern. Tolong dimasukan ke program acara yang lain saja”
    (Cika berjalan mendatangi Yeni dan bertanya)
Cika    : “Yen, Pak Jajang ada?”
Yeni    : “Ada”
    (Yeni kembali ke tamu)
Yeni    : “Bagaimana pak jadi dimasukan di mana?”
    Cika jalan dan berpapasan dengan Radit
Cika    : “Pak Jajang ada, Mas?”
Radit    : “Ada diruangannya”
    (Radit menjawab sambil berjalan  keluar, yeni menyempatkan bertanya ke radit)
Yeni    : “Mas Radit Sampean mau kemana?”
Radit    : “Aku mau loby sponsor untuk acara sepeda sehat”
    (ekspresi yeni menatap kepergian radit)
 __________________________________________________

Scene 2 Ruangan manager.
Cast jajang, cika

Di ruang manager. Cika masuk dan menunjukan proposal ke Jajang.

Cika    : “Ini pak proposal acara yang sudah saya sampaikan kemarin.”
Jajang    : “lhooooo, kamu kan tahu. Jam siar kita sudah penuh. Beberapa program masih ada ikatan kontrak dengan sponsor lain.”
Cika    : “Tapi, Pak. Sayang, kan? Kalau ini kita tolak. Sponsor utama dan pendukung sudah setuju, tinggal kita bagaimana?”
Jajang    : “Coba, nanti saya pikir-pikir dulu.”
Cika    : “Oh ya, Pak. Kata mereka, program ini akan mereka berikan ke radio lain. Bila kita tidak segera menanggapi.”
Jajang    : "Ya, coba saya pelajari."

_________________________________________________________

Scene 3
MULTI ANGLE Kota Kediri Malam, multi close ruang siar pak Angga sedang siaran.

____________________________________________________________

Scene 4
Warung kopi kaki lima
Cast Mak Pong, Aris, Bondet, Giwo, figuran
Warung mak Pong sudah ada yang makan disitu satu orang. Mak pong sedang menunggu sambil mengupas bawang untuk persiapan masak besok.  Aris cs masuk warung.
Aris        : “Kopi, Mak!”
Mank Pong    : “Kopi susu opo ireng ?”
Aris        : “Ireng, Mak. Kowe opo, Ndet ?”
Bondet        : “Ireng, ae.
Aris        : "Wok, owe pesen opo ?”
Giwo        : “Susu jahe”
Bondet        : “Oalah, Mak. Acara radio koyok ngene kok disetel. Masio wis tuwek tapi selerane         yow sek rodok modern ngonolo, Mak?”
Mak Pong        : “Wooooo, Ndasmu kuwi.”

Bondet memindahkan chanel radio, ketemu yang disukai.
Bondet        : “Lha.. ngene lak yo iso asyik to, Mak !”
Mak Pong geleng kepala menggunam: “Mmmmhhh cah enom saiki”

____________________________________________________

Scene 5,
Kantor Radio Malam.
Angga sedang siaran dengan bahasa jawa.
Cast Angga, Jajang, Radit

Di ruang itu Jajang mempelajari proposal dan masih ada beberapa proposal yang menumpuk di meja. Radit masuk ruangan. Sembari melangkah menuju ke galon dan ambil minum.
Radit    : “Tumben belum pulang, Mas ?”
(tanya sambil jalan)

Jajang    : “Aku bingung menempatkan program acara baru.”
(menjawab tanpa menoleh ke Radit)

Radit    : “Kalau dibuat simple, gimana? Acara baru itu kayaknya bagus, Mas. Hmm, bisa membuat radio kita makin disukai. Ya, kan?"
(sambil menuangkan air galon ke gelas)

Jajang    : “Kalau acaranya sih standart. Cuma yang menjadi pertimbanganku acara itu sudah tercover     sponsor utama dan pendukung”
(menjawab tanpa menoleh ke Radit)

Radit    : “Yacchh, tinggal evaluasi mana acara yang layak di cut dan konfirmasi dengan sponsor deal. Selesai to?” (masih menuang air dan meminumnya sambil menghadapkan diri ke Jajang)

Jajang    : “Aaachhh kamu itu selalu melihat sesuatu dari permukannya saja”
(menoleh dan menjawab ke Radit)

Radit    : “Loooo, yang aku katakan itu real loo, Mas. Kalau bisa mudah kenapa dibuat sulit?”

Jajang    : “Masalahnya bukan itu, Dit. satu-satunya acara yang gak pernah dapat sponsor hanya     acaranya pak Angga”
Radit    : “Acara pakai bahasa jawa ini?”
Jajang    : “Yang mana lagi?”
Radit    : “Kalau begitu permasalahannya kan sudah selesai ?”
Jajang    : “Tolonglah, Dit. Kamu sedikit ngerti aku, kamu tahu sendiri kan kalau pak Angga itu penyiar paling senior di sini. Dan program acara dia yang lain sudah kita hapus, bagaimana aku bisa mengatakan hal ini?”
Radit    : “Mas, kamu ini kerja professional apa, nggak? Sebagai manager,, you mesti bersikap tegas. kalau program baru itu menurutmu sangat menguntungan, kenapa enggak? ”
Jajang    : “Aku Cuma kesulitan menyampaikannya”
Radit    : “Kita putuskan saja melalui rapat”
Jajang    : “Kalau sampai votting?”
Radit    : “Nanti aku bantu. Berikan saja prolog yang membangun. Toh, realitasnya juga begitu. ”

___________________________________________________

Scene 6
Rumah budi (anak kecil yang sedang mendengarkan radio)
cast budi
Budi sedang mengerjakan PR sambil mendengarkan radio

______________________________________________________

Kota Kediri siang .
Ruang rapat radio.

Radit    : “Saya kira memang sudah waktunya kita adakan perubahan demi lebih menariknya acara.”
Yeni    : “Tapi kenapa harus acaranya pak Angga?”
Wendy    : “Ya, apa nggak ada solusi lain ?”
Jajang    : “Teman-teman, pak Angga memang penyiar paling senior tapi di sini permasalahannya bukan pak Angga.”
Yeni    : “Tapi realitasnya semua acara pak Angga dicut”
Wendy    ; "Mas,"
Jajang    ; "Ya, mbak wendy"
Wendy    ; "Di antara sekian banyak radio, hanya radio kita yang masih ada acara siaran bahasa jawa.     pak Angga sendiri dalam membawakan acara juga ringan lucu dan mendidik. Menurut  saya itu unik dan bisa diterima semua segmen"
Radit    ; "Sebagai marketing saya melihat acara yang masih pakai bahasa jawa ini sulit sekali mengundang sponsor. Bahkan praktis tidak ada iklan yang masuk."
Yeni    ; "Dan itu tugas mas Radit kan?"
Radit    ; "Yen, saya nggak maksa. Pihak sponsor punya hak memilih untuk meletakkan di mana iklan mereka mau dipasang."
Yeni    : "Ya, bagaimanapun itu di bidang mas radit?
Jajang    ; Ok2, begini saja. teman-teman. Dari tiga program baru ini, radio kita akan mendapat kontribusi iklan yang lumayan besar. Selain untuk menopang biaya operasional, juga untuk menambah insentif karyawan. Jadi karena ini menyangkut kepentingan bersama, bagaimana kalau kita voting saja?"

ruangan jadi sepi semuanya pada diam.

__________________________________________________

Scene 8  
wendi dan yeni jalan bareng
Wendi    ; "Yen, kamu kok ketus banget sih di rapat tadi?"
Yeni    ; hmmm
Wendi    ; "Ada apa to?"
Yeni    ; "Mbak, aku cuma nggak habis pikir. Orang seperti pak Angga yang penuh tauladan dan     begitu perhatian ke kita yang muda. Eehh, kok malah disingkirkan.
Wendi    ; "lhoo.. kenapa kamu berfikiran seperti itu?"
Yeni    ; "Menurutku, seluruh kemampuan pak angga itu hanya di seni budaya jawa dan         pengabdian beliau pada radio kita sangat besar. Tapi apa yang diterimanya sekarang? Dialih-    pindahkan program acaranya dan masih dipilihkan lagi. Belum pasti ada yang sesuai     karakternya?"
Wendi    : "Bukan itu yang aku maksud. Tantang program acara, tadi sudah jelas diputuskan dalam         rapat dan hasilnya seperti itu"
Yeni    : "Lalu?"
Wendi    ; "Tentang sikap kamu yang memojokan Radit? Apa nggak malah menjauhkan proses pendekatanmu dengan dia? Sebenarnya kamu naksir bener apa gak sih?"
Yeni    ;hhhmm entahlah, Mbak...

________________________________________

Scene 9
Radit dikamar kostnya

Radit merenung tiduran berbantal dua tanganya, laptopnya masih menyala halaman fb yeni terpampang di layar. Radit bangun mendekati laptopnya dia klik di tambahkan teman saat konfirmasi radit menimbang dan ragu lalu dia klik cancel.

__________________________________________

scene 10
Malam hari.
Di ruangan dalam rumah, Pak Rudi (Pemilik Radio) sedang meneliti laporan kerja dan rekap keuangan radio. Istrinya datang membawakan segelas kopi.

Rudi    ;"Penanganan Radio bulan ini sepertinya banyak peningkatan, Bu. Dari laporan ini, kita         dapat surplus hampir 75% lebih banyak dibanding bulan kemarin."

Istri    :"Alhamdulillah, pak. Kalau aku amati, mereka-mereka semangat mengelolanya.

Rudi    :"Dari sponsor yang masuk,juga lebih variatif. Ini, ada lebih dari 15 partner sponsor             perusahanan baru yang memasang iklan di radio kita.

Istri    :hmm

Rudi    :"Ini prestasi yang bagus. Aku ingin memberi mereka hadiah, tapi apa ya, Bu?"

Istri    :"Kalau sekedar cast money saja, kayaknya kurang mengena, Pak."

Rudi    :"Lalu, kira-kira apa, Bu?"
(sambil minum kopi, lalu berkata)

Istri    :"Ya.. maksud kulo berilah sesuatu yang bisa tambah mempererat hubungan antara sesama kru.         semisal kumpul bersama atau jalan-jalan bareng kemana."

Rudi    :"Ok, Bu. diadakan pesta saja, ya. Gimana? Yach, Kalau kita pergi pinik pertimbagannya,         pasti ada 1 atau 2 kru yang nggak ikut. Harus jaga radio, kan?"

Istri    :"Lebih tepatnya tasyakuran, Pak. Nanti sekaligus siraman rohani dari Ustadz baru yang on-    air di radio kita itu"

Rudi    :"Ustadz Ahmad"

Istri    :"Ya,"

Rudi    :"Besok, tolong siapkan ugo-rampenya"

_________________________________________

Scene 11

Loby Radio Siang hari

berkali-kali telpon berdering, Yeni sibuk menerima komplain tentang di-cut-nya program acara bahasa jawa,

Yeni    :"Mohon maaf, Pak. Dari pimpinan kami, sedikit ada perubahan jadwal. Usul bapak kami terima  dan nanti akan kami rapatkan kembali dengan pimpinan kami."

yeni    :"Ya terima kasih atas kepedulian kepada El Radio. selamat siang"

telpon berdiring lagi

Yeni    :"El-Radio, dengan Yeni disini. bisa kami bantu"

Yeni    :"Ya, Pak. Kami sedikit mengadakan perubahan jadwal."

Yeni    :"Mohon maaf, jika kurang berkenan. Nanti akan kami rapatkan kembali dengan pimpinan"
(telpon tib-tiba ditutup oleh penelpon)


Yeni    :"Marah-marah." (yeni bingung dan berucap sambil menghadap ke Chika)

telpon berdering kembali dan yeni mengangkat lagi

Yeni    :"Siang, El Radio di sini."


_________________________________________________

Scene 12

Ruang Loby El Radio.

Ada beberapa tamu yang datang ke Studio.
Cast Yeni, Chika, Radit, Jajang, Ibu Budi, Budi,
Yeni sibuk dengan telpon.
Jajang hanya lewat dan memandangi perbincangan Chika dengan Ibu Budi. Jajang juga melihat kesibukan Yeni.


Ibu Budi    :"Siang, Mbak.

Chika        :"Siang... Ya, bisa kami bantu, Buk?"

Ibu Budi    :"Begini, Mbak. maaf, ya. hmm, ada sedikit usul. Kedatangan saya kemari, memohonkan agar program acara bahasa jawa jangan ditiadakan. Sebab anak saya, banyak belajar bahasa dan budaya daerah dari sairan radio ini, terutama yang program acara bahasa jawa.

Chika        :"Hmmm, ya, Bu. Radio kami sedikit ada perubahan jadwal acara."

Ibu Budi    :"Lhoo, bukannya mau ditiadakan program acara itu, seperti yang disiarkan?"

Chika        :"Ya, kami sebenarnya masih menimbang-nimbang, Bu. Tapi sepertinya mau dipindah      tayangkan jam siarnya"

Ibu Budi    :"Kalau bisa tetap di jam yang sama, Mbak. Sebab anak-anak di jam segitu biasanya lagi belajar sambil mendengarkan radio."

Chika        :"Ya, Bu. Nanti akan saya sampaikan ke pimpinan."

(Chika sambil mengambilakan air meneral gelasan dan menyuguhkan kepada tamu itu.)

Chika        :"Monggo, Bu." "Ini untuk Adik,"
(Chika mengambilkan kertas komplain dan disodorkan untuk diisi Ibu)

Chika         :"Maaf, Bu. Harap Ibu mengisi Buku tamu ini, sekaligus buku Saran ini. selanjutnya nanti akan kami rapatkan kembali permintaan-permintaan atau saran dari pendengar el-radio seperti ibu."

Ibu Budi    :"Ya,.."

Ada tamu yang lain datang dan bertemu Jajang.

_______________________________________

Scene 13
ruang loby
Jajang dan Tamu Muda
tamu itu baru masuk dan ketepatan bertemu Jajang yang sedang berjalan keluar. Dari Luar tampak Pak Rudi sedang berjalan menuju ke Ruang Loby.

Tamu Muda    :"Siang, Mas. Kalau mau komplain terhadap Radio ini bagaimana prosedurnya?"

Jajang        :"Siang,.. Oh silahkan, Masnya nanti menemui Mbaknya yang itu. monggo silahkan duduk         dulu."

Tamu Muda    :"Tumben, ramai banget, Mas."

Jajang        :"Mereka-mereka pendengar setia el-radio."

Pak Rudi Datang

Jajang        :"Siang, Pak"
mereka bersalaman

PAk Rudi    :"Ada Apa ini? kok ramai sekali"

Jajang        :"Mereka mengadu tentang program acaranya Pak Angga yang nantinya akan ditiadakan"

_________________________
gambar klik ini
behind the scene : http://youtu.be/9E3hmjoNsEw

s a y a h a n y a m e n c o b a m e n e r t a w a k a n d i r i s e n d i r i ?

paragraf  ] 

Satu alasan yang tak pasti atau bejibun makna yang tersembunyi, itu adalah misteri. Dalam beberapa kalimat yang mungkin seseorang yang lain tak mengerti tapi aku yakin, anda akan mengerti dan paham apa yang akan tertulis dalam catatan di bawah ini;
________________________________

Seringkali kita menertawakan sesuatu yang dianggap lucu. Tanpa disadari atau dengan kita sadar, kadang hal lucu tersebut melompat dari subtansi lucu yang ditawarkan. Bisa jadi kalau kita tidak meng-filter, kadang 'kadar lucu' menjadi hambar dan kita akan balik bertanya (tentunya kepada diri sendiri); "sebenarnya kita menertawakan apa? Dan apanya yang lucu?"

Dan berikut merupakan peristiwa lucu menurut saya (Semoga anda membaca?)




"Pucuk dicinta ulam tiba"

Pepatah tersebut sampai saat ini masih belum dapat aku pahami sebagaimana makna dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia. Dalam artian makna perkata bila dipisahkan satu persatu kata. Jelas, kalau makna yang benar secara keseluruhan dapat diartikan; mendapat sesuatu yang lebih dari apa yang diharapkan.

Namun aku akan mencoba memberi makna (sekenhendak hatiku, tentunya. anda boleh protes!) pada satu persatu kata; pucuk; adalah ujung dan di ujung ini biasanya kita tidak ingat darimana sebenarnya kita memulai? Salah niat atau memang sengaja untuk membelokkan niat (aku tidak tahu?). dicinta; orang sekarang akan berpikir berkali-kali bila ada sesorang bilang cinta. Lebih lanjutnya, cinta di zaman sekarang diartikan materi (sekali lagi anda boleh protes!) cinta telah menjadi benda bukan lagi sifat yang melakat pada kemanusian secara umum. Mengenai  ulam, orang jawa mengartikannya 'ayam' dan 'tiba' boleh lah kita maknai 'datang'. Jadi bila diartikan secara tidak benar (mungkin) akan bermakna semacam; "ketika anda lupa jalan kembali maka sebutan ayam akan datang"  pastinya kalau masih saja tidak sadar? (footnote: jalan kembali rujuknya kepada Tuhan)

Aku tidak munafik dalam menanggapi hal-hal yang sebenarnya aku anggap sepele. Tapi ini nyata, satu contoh bilamana anda mendapatkan sesuatu yang membahagiakan, tentunya tidak akan ragu anda untuk berkorban. Mungkin dengan tanpa menimbang apapun. Namun bila direnungkan lebih dalam, apalah arti sebuah kebahagian? Ada seribu bahkan lebih dari apa yang orang-orang tidak mampu lagi membayangkan arti kebahagian itu sendiri.

Kebahagian adalah satu hal yang tak pasti.  Seseorang mengartikan demikian dan salah satu sebab-sebabnya itu, adanya dualisme hidup.  Pertama; Hidup dalam bentuk tubuh, rangka, body atau apalah yang kelihatan wujud. Disini arti bahagia mengembang menjadi sesuatu yang dapat menggembirakan, mungkin dengan sekedar senyuman, saling sapa dan atau hal-hal lain yang tidak membuat orang lain menjadi berburuk sangka, bahkan marah. Kedua; hidup dalam bentuk yang abstrak, soul, jiwa, ruh, atau sesuatu yang tidak terlihat tapi kita merasakan itu ada. Ini lebih sulit untuk dijabarkan sebab seperti kata orang2 yang sedang menderita; "dari mata turun ke hati" (silahkan artikan sendiri!) Saya katakan 'menderita' karena hal ini tidak lain adalah bencana yang berupa Anugrah.


(mugi-mugi mboten mumet menyimpulkannya)


Thanks to 'anda' (oh ya... khusus dicatatan ini 'anda' saya tulis huruf kecil, padahal ini menyalahi aturan penulisan dalam berbahasa Indonesia yang baik dan benar dan tujuan pribadi penulisan 'anda' dengan huruf kecil bisakah dianggap penghinaan kepada anda tentunya, sekali lagi kalau sadar? )


nb:- s a y a  h a n y a  m e n c o b a  m e n e r t a w a k a n  d i r i  s e n d i r i ?
    - gambar lupa ambil dari mana hehehe
Share