Ma-ul Jahanam


Sore yang basah. Pertigaan di utara Pondok Pesantren masih diam tanpa ada sesuatu lain kecuali gerimis yang ramah menyapa bumi. Dari arah kota, terlintas becak yang menyibak gerimis dan becak itu berjalan menepi ke arah warung Lek Jo. Di dalam Warung, ada kang santri-kang santri yang biasa kerja paruh waktu (becak-an), mereka sedang duduk-duduk sembari menanti gerimis reda.

Tak seberapa lama, "Assalamu'alaikum" salam dari Kang Udin yang disambut koor jawab salam dari Kang Dirro, Kang Tuplik dan Lek Jo, "Wa'alaikum salam" yang sejak tadi berada di dalam warung.

"Darimana, Din?" tanya kang Dirro kepada kawan sesama arek becak-an.

"Itu, ngantar Mas Ahmad beli peralatan Dekor... hmm, katanya untuk menyambut kedatangan jama'ah haji. Tanya saja tuh orangnya lagi mau kesini!"


Mas Ahmad menyusul masuk Kang Udin ke warung, "Assalamu'alaikum."

"Wa'alaikum salam," jawab kompak orang-orang yang ada dalam warung.

"Emange kapan, Mas? Jama'ah Haji datang, " tanya kang Tuplik.

"Kamarin, Cak Dullah kasih kabar, kira2 satu minggu lagi tapi persiapanlah biar tidak Ndadak, " jawab Mas Ahmad.

Cak Dullah adalah Putra dari Kiai Sholeh yang tahun ini menunaikan ibadah  ke Tanah Suci dan Mas Ahmad, sebagai santri yang senior diamanati untuk menjadi panitia penyambutan Jama'ah Haji.

"Oh, ya... tadi saya main ke kamar yang digunakan untuk bikin dekor. Sepertinya Ada yang kurang bisa dipaham dari Mal-malan dekor. Tapi aku tadi tergesa-gesa sebab baru didawuhi kiai Sholeh, jadi hanya selintas tanya saja hehehe..." Kang Dirro berkata sambil senyum-senyum sendiri tertawa ringan hehehe... ia lanjut berkata, "

"lha kenapa tho, kang" tanya penasaran Mas Ahmad.

"lho, malah ketawa sendiri" kang Uddin menyahut.

"Entah, ya begini, kalau bahasa Arab dari kata datang adalah Ja'a, sedang bahasa Arabnya; selamat adalah salamah,.. kalau Air itu bahasa arabnya ma' dan tanah itu bahasa arabnya Ardun, sedangkan hadir kayaknya sama bahasanya hehehe.." Kang Dirro tidak bisa menyembunyikan tawanya

"Maksudnya?" Kang Tuplik semakin penasaran

"Selamat datang kehadiran Anda ke Tanah Air kembali... bahasa Arabnya apa? hehehe..." Kang Dirro balik tanya.

Lek Jo yang sejak tadi diam saja tiba-tiba urun rembuk, "Hahaha... aku tahu; Salamah ja'a bi hudurika ila Ardun ma..."

hahaha... tawa renyah memecah kebekuan larik-larik gerimis.

"Itu yang salah siapa...?" tanya Kang Tuplik.

"Yo, emang bener. Arab bukan Indonesia dan Indonesia bukan Arab dari susunan bahasanya saja sudah beda... hehehe" kata Lek Jo

"Tapi asal sesuai dengan nafas keagamaan biasanya malah mendatangkan untung," kata Mas Ahmad menyela tawa..

"Maksudnya, apa lagi ni?" Kang Tuplik penasaran.

"Ini cerita tentang seorang santri yang pergi haji. Waktu itu dalam perjalanan dari Madinah mau ke Mekah, disana kan panas sekali. Lha, di dalam bis, ternyata AC-nya lupa dihidupkan oleh sopir. Semua yang naik di bis itu kegerahan. Satu sama lain saling pandang. Kira-kira dalam hati mereka berkata, "Bagaimana menyuruh si sopir  menghidupkan AC? Lha, semua mata akhirnya melirik ke Kang Santri itu. Dengan agak takut-takut kang santri itu beranikan diri... setelah di dekat supir dia menepuk bahu sopir dan sopir itu menoleh. Keringat sejagung-jagung mengucur di keningnya, entah takut atau semakin gerah. Kang santri itu lalu menunjukkan jari ke AC sambil berucap, "Innalilahi wa inna ilahi raji'un..." kata Mas Ahmad mengundang tawa

hahaha...

"Apa juga begitu, yach? Bahasa Arabnya; tolong, hidupkan AC itu? hehehe" tanya Lek Jo.

"Halah... Ada lagi- ada lagi, cerita dari sana, ketika seorang santri mau beli air panas karena bingung memilih dan memilah kata... Mungkin di waktu mondoknya dia nggak mempeng atau dia lupa? hahaha...dan akhirnya ia bikin sendiri istilah itu... " Kang Uddin membikin pertanyaan baru.

hehehe....

"Apa? kalau ketawa dibagi-bagi!" pinta kang Dirro.

"Ma-ul Jahanam, hehehe... ada nggak, ya? hehehe..." jawab enteng kang Uddiin.

"Cerdas atau bodoh? hahaha..." Tanya Kang Dirro.

"Neraka kan Panas dan yang paling nge-tren neraka Jahanam, hehehe..." sahut kang Tuplik.

" Owh, ya... hahaha… Lek, ma-ul jahanam diberi gula dan kopi, dua Lek...! Eh, kamu ngopi tho, Kang Din?" kata Mas Ahmad.

"Iya..."

Samar-samar tawa renyah terdengar dari dalam warung dan beriring percik-percik gerimis di atap warung lek Jo. Memang, antara gerimis dan tawa, keduanya sama-sama memecah kebuntuan. Gerimis turun bawa berkah basahi bumi yang kering dan tawa hadir dalam kebekuan suasana yang akan sedikit cair dengan tawa yang sedikit pula. Kalau gerimis datang biasanya diiringi hujan tapi tidak semua gerimis lalu pasti hujan. Seperti halnya gerimis, tentang tawa; datangnya juga tidak selalu membawa bahagia dan bangga. Kadang mereka yang tertawa ada yang menghina, ada yang hanya canda dan ada pula yang ingin melepas sejenak segala persoalan, rileks meski tanpa keterlaluan. 

_______________
terbit di Majalah MISYKAT Edisi 55 tahun 2009

0 comments:

Post a Comment

.