masturbasi otak

marahlah pada diri sendiri
gambare saya lupa ambil di mana, juga asal cropping saja
Ketika aku ditanya; kegiatan apa yang paling kamu senangi saat lagi sumpek? Hal ini nggak jauh-jauh aku melampiaskannya, 1. Ambil air wudlu dan nderes al Quran dan ketika hal itu agak malas, aku kerjakan hal yang ke-2... ON-kan komputer lalu menulis. Entah menulis apa yang penting meletakkan jemari pada tuts-tuts. Seperti saat ini,ketika merampungkan tulisan ini... Mula-mula aku bepikir mau menulis apa? Tapi akan aku coba mengalir saja, ini tulisan mau diarahkan kemana?
1. Menulis nggak harus bagus, itu satu poin penting yang perlu ditanamkan dalam-dalam. seperti seorang yang berjualan dan orang itu modalnya sedikit, tentu jualan pertamanya terlihat wagu, lucu dan nggak 'komplit blass'. Dan begitulah semua akan berkembang dengan sendirinya tanpa ada beberapa rancangan sekalipun kalau sudah keluar 'moot' akan lancar-lancar saja.
Tapi kalau menurut saya, menulis nggak harus ada 'moot' sebab bisa saja 'moot' itu keluar di saat menulis, maksud saya, di tengah-tengah menulis bisa jadi 'moot' baru datang. Pokok dari menulis bahwa sebenarnya kita 'mau' bukan kita 'mampu'. 'mampu' kalau nggak 'mau' sama saja tidak akan berkembang. Maka banyak dari seorang yang ingin konsen dalam dunia kepenulisan, seringkali mereka memaksakan diri untuk sekedar menulis. Dari sering menulis bisa jadi dia akan terbiasa dan berkembang.

Hal apa di dunia ini yang tidak karena kebiasaan? kayaknya semua sebab kebiasaan. termasuk juga menulis.

2. Nggak beda dengan mengobrol. kita biasanya betah berjam-jam ngobrol/ngerumpi sama teman-teman. bercerita tentang ini-itu, panjang kali lebar samadengan luas dan sisi kali sisi kali sisi samadengan isi dan lain-lain, yang intinya sisihkan waktu untuk sekedar mengorol dengan pikiran Anda sendiri.
Kadang ketika nonton film kita bisa sampai sepuluh judul atau lebih. kita larut dalam alur cerita film malah bisa-bisa tegang sendiri juga merasa benci pada tokoh antagonisnya. Malahan yang lucu ketika kita nonton bola sering kali kita merasa kalah sebab tim yang kita bela kalah. begitu terpukul dan menjadi tak bergairah.

Dalam hal-hal semacam itu kita bisa mengikuti alur dan bahkan menjiwai, mungkin dalam menulis bila kita sedikit konsen dan  fokus akan merasakan hal yang sama seperti nonton film atau sepak bola. Mengapa aku bilang mungkin? Sebab aku juga belum bisa fokus.
Maksud saya tentang nggak beda dengan ngobrol bahwa ini hal mudah yang sering kita lakukan cumak bedanya satu bentuk  verbal/ co2t dan satunya bentuk teks atau satunya bersama dengan orang lain dan satunya dengan diri sendiri. hehehe... Separah-parahnya kita mengobrol sendiri via teks nggak akan dianggap gila dan ini beda ketikan kita ngobrol verbal/ suara seperti 'ngomong dewe' itu pasti dianggap gila?

3. Paksa. (MASTURBASI OTAK) Jelas itu modal pokok untuk memulai sesuatu. tidak cukup sekedar niat harus dengan paksa. apa salahnya memaksa diri sendiri toh itu juga tidak merugikan orang lain. Tapi tentunya juga harus tahu waktu,kalau saatnya sholat yang harus tetap sholat.

4. Baca. apa saja. bisa berupa teks atau gambar, kelakuan atau sifat seseorang/mahluk. pokoknya baca sekitarmu, semua bisa menjadi indah. sebab keindahan ada dimana-mana tinggal bagaimana kita menilainya. kalau untuk menambah asupan kosakata dan atau gaya-gaya dalam penulisan seperti narasi, deskripsi ataupun monolog dll, tentunya mencermati teks dari beberapa tulisan berkualitas adalah pilihan tepat.
Seperti halnya baca kita juga harus bisa memahami 'bahasa'; bahasa disini diartikan sebagai dialog satu level sosial. dicontohkan bahwa bahasa tukang becak tentu beda dengan bahasa pejabat. bahasa kiai juga beda dengan bahasa orang-orang di pasar. bahasa orang miskin beda pula dengan bahasa orang-orang kaya. bila kita semakin tahu banyak bahasa-bahasa yang saya maksud itu maka akan semakin ragam pula corak kepenulisan kita. kunci dari ini adalah banyak bergaul dengan yang lain.

5. penulis pemula (amatir) dan penulis yang telah lama (profesional) sama saja dan sebab yang membedakan adalah siapa yang lebih dulu bersedia meluangkan waktunya untuk menulis.


dicukupkan segitu dulu kayaknya kurang panjang...


Share:

0 comments:

Post a Comment