Abuya: Pesona di Ujung Jawa



Subhanallah… La haula wa laquwata illa billah.

Hanya decak kagum dan ucapan tasbih tak henti-henti yang terungkap bila Anda menyimak Manakib Abuya Cidahu (Dalam Pesona Langkah di Dua Alam). Sebuah manakib (autobiografi) tentang Abuya Dimyathi, tokoh kharismatik dunia kepesantrenan, penganjur ajaran Ahlusunah Wal Jama’ah. Mengisahkan atas rutinitas hal ihwal perjalanan hidup, kisah perjuangan membela tanah air, amalan-amalan yang dilakukan dan hal-hal yang tidak masuk akal lainnya.

Kisah-kisah dari tanah terberkahi

Abuya Dimyathi, begitu panggilan hormat masyarakat kepadanya, terlahir di tanah Banten, salah satu bumi terberkahi. Tepatnya di Kabupaten Pandeglang yang pada masa revolusi fisik kemerdekaan, kabupaten ini dipimpin oleh seorang ulama (KH Abdoel Chalim) seperti daerah Banten lainnya.
Masa kecil Abuya dihabiskan di kampung kelahirannya; Kalahang. Awal menuntut ilmu, Abuya dididik langsung oleh ayahandanya, KH Muhammad Amin bin Dalin. Lalu melanjutkan berkelana menuntut ilmu agama, sampai-sampai dalam usia sudah setengah baya. Di sekitar tahun 1967-1968 M, beliau berangkat mondok lagi bersama putra pertama dan beberapa santri beliau (hal. 168).

Dahaga akan ilmu tiada habis, satu hal yang mungkin tidak masuk akal bila seorang yang sudah menikah dan punya putra berangkat mondok lagi, bahkan bersama putranya. Tapi itulah Abuya Dimyathi, ketulusannya dalam menimba ilmu agama dan mensyiarkannya membawa beliau pada satu tingkat di atas khalayak biasa.

Abuya berguru pada ulama-ulama sepuh di tanah Jawa. Di antaranya Abuya Abdul Chalim, Abuya Muqri Abdul Chamid, Mama Achmad Bakri (Mama Sempur), Mbah Dalhar Watucongol, Mbah Nawawi Jejeran Jogja, Mbah Khozin Bendo Pare, Mbah Baidlowi Lasem, Mbah Rukyat Kaliwungu dan masih banyak lagi. Kesemua guru-guru beliau bermuara pada Syech Nawawi al Bantany. Kata Abuya, para kiai sepuh tersebut adalah memiliki kriteria kekhilafahan atau mursyid sempurna, setelah Abuya berguru, tak lama kemudian para kiai sepuh wafat.(hal 396).

Ketika mondok di Watucongol, Abuya sudah diminta untuk mengajar oleh Mbah Dalhar. Satu kisah unik ketika Abuya datang pertama ke Watucongol, Mbah Dalhar memberi kabar kepada santri-santri besok akan datang ‘kitab banyak’. Dan hal ini terbukti mulai saat masih mondok di Watucongol sampai di tempat beliau mondok lainya, hingga sampai Abuya menetap, beliau banyak mengajar dan mengorek kitab-kitab. Di pondok Bendo, Pare, Abuya lebih di kenal dengan sebutan ‘Mbah Dim Banten’ dan mendapat laqob ‘Sulthon Aulia’, karena Abuya memang wira’i dan topo dunyo. Pada tiap Pondok yang Abuya singgahi, selalu ada peningkatan santri mengaji dan ini satu bukti tersendiri di tiap daerah yang Abuya singgahi jadi terberkahi.

Hal-hal tak masuk akal

Mahasuci Allah yang tidak membuat penanda atas wali-Nya kecuali dengan penanda atas diri-Nya. Dan Dia tidak mempertemukan dengan mereka kecuali orang yang Dia kehendaki untuk sampai kepada-Nya. (al Hikam)

Wallahu a’lam. Ada banyak cerita tak masuk akal dalam buku ini, namun kadar ”gula-gula” tidaklah terasa sebab penitikberatan segala kisah perjuangan Abuya lebih diambil dari orang-orang yang menjadi saksi hidupnya (kebanyakan dari mereka masih hidup) dan dituturkan apa adanya. Abuya memang sudah masyhur wira’i dan topo dunyo semenjak masih mondok diusia muda. Di waktu mondok, Abuya sudah terbiasa tirakat, tidak pernah terlihat tidur dan istimewanya adalah menu makan Abuya yang hanya sekedar. Beliau selalu menghabiskan waktu untuk menimba ilmu, baik dengan mengaji, mengajar atau mutola’ah. Sampai sudah menetap pun Abuya masih menjalankan keistiqamahannya itu dan tidak dikurangi bahkan ditambah.

Di tahun 1999 M, dunia dibuat geger, seorang kiai membacakan kitab tafsir Ibnu Jarir yang tebalnya 30 jilid. Banyak yang tidak percaya si pengajar dapat merampungkannya, tapi berkat ketelatenan Abuya pengajian itu dapat khatam tahun 2003 M. Beliau membacakan tafsir Ibnu Jarir itu setelah Khatam 4 kali khatam membacakan Tafsir Ibnu katsir (4 jilid).

Cerita-cerita lain tentang karomah Abuya, dituturkan dan membuat kita berdecak kagum. Subhanallah! Misal seperti; masa perjuangan kemerdekaan dimana Abuya di garis terdepan menentang penjajahan; kisah kereta api yang tiba-tiba berhenti sewaktu akan menabak Abuya di Surabaya; kisah angin mamiri diutus membawa surat ke KH Rukyat. Ada lagi kisah Abuya bisa membaca pikiran orang; kisah nyata beberapa orang yang melihat dan bahkan berbincang dengan Abuya di Makkah padahal Abuya telah meninggal dunia. Bahkan kisah dari timur tengah yang mengatakan bahwa Abuya tiap malam jumat ziarah di makam Syech Abdul Qodir al Jailani dan hal-hal lain yang tidak masuk akal tapi benar terjadinya dan ada (berikut saksi-saksi hidupnya).

Buku eksklusif

Keteladanan Abuya dalam menggengam teguh keislaman dengan dorongan ikhlas mendalam yang membuat Abuya dihormati dan selalu dimintai nasehat dan petunjuknya.

Beliau dibesarkan oleh akhlakul karimah dan amalan-amalan wadlifah secara istiqamah yang selalu ia amalkan.
Yang diminta seorang arif kepada Allah adalah ketulusan dalam menghamba dan pemenuhan hak-hak ketuhananNya. (al Hikam)
Menurut cerita al Mukarrom KH Dimyathi Ro’is Kaliwungu, ketika Abuya di kaliwungu, mengungkapkan bahwa ia belum pernah melihat seorang kiai yang ibadahnya luar biasa dan istimewa seperti Abuya (286).

Satu nilai plus dalam buku ini selain kisah keteladanan nan bersahaja Abuya, kliping-kliping berbagai media tentang beliau dan juga ada terlampirnya foto-foto esklusif warna seorang Kiai Kharismatik Abuya Haji Muhammad Dimyathi. Al Fatihah!


Judul : Manakib Abuya Cidahu
(Dalam Pesona langkah di Dua Alam)
Penulis : KH Murtadlo Dimyathi
Penerbit : Ahli Bait Alm Abuya Dimyathi
Edisi : 2008
Tebal : 400 + XXVI halaman
Peresensi : Ryan Ahmad Fk.(bejohalumajaro)

pernah terbit di Miyskat Edisi 50

Share:

0 comments:

Post a Comment