Formalitas Hidup

 [ kange ]



Diusianya yang hampir berkepala empat, Kang Ahmad masih tampak selalu bersemangat. Dalam menjalani keseharian ia masih sendiri, belum beristri dan masih bercita-cita mengikuti nikah massal yang saban tahun diselenggarakan pondok pesantren. Ada ketabahan yang mengakar dalam dirinya atau ia hanya dalam sebuah keterpaksaan hidup yang harus terus dijalaninya. Dari kuli di pasar sampai kini telah berkali-kali alih profesi dan yang paling akhir ini, di samping narik becak, ia kalau pagi menghantar koran dan kadang-kadang juga menerima jasa winter jeans.

Tatapan matanya tajam hingga acapkali aku dibuat kikuk kala sedang mengobrol dengannya dan tak sengaja beradu pandang. Kang Ahmad seakan menikmati hidupnya yang barang tentu sudah tidak lagi merasakan nikmat hidup dalam pandangan masyarakat umum. Dalam suatu obrolan ia pernah berdalih,
"Sebagai seorang yang masih mempercayai Tuhan, pantang kau merasa Tuhan tidak adil!"
"Tapi hidupmu kok ga berubah-ubah, Kang?
"Berubah apanya? Yang jelas kalau masalah fisik kita akan semakin lemah, semakin tua. Orang kalau memandang besok tuanya akan tampak jelek, dia tidak akan bergaya dalam menjalani aktifitas masa mudanya dan tentunya hanya akan mengunakan waktu mudanya dengan hal-hal yang baik. Bukan seperti aku sudah sebegini belum laku-laku... hehehe." Meski tampak bercanda kata-kata Kang Ahmad mengalir dalam alur garis-garis di wajahnya dan di keheningan keningnya yang berkerut-kerut seakan memikirkan apa yang ia omongkan atau jangan-jangan Kang Ahmad menyesali masalalunya.

Seringkali aku dengar cerita-cerita dari orang yang cangkruk di warung Lek Jo, betapa kisah hidup yang dialami Kang Ahmad begitu panjang. Mungkin sepanjang sungai yang membelah kota kami atau bahkan lebih panjang lagi. Ada varian cerita tentangnya, ada yang mengatakan, memang salahnya kang Ahmad yang ikut-ikutan menjalankan bisnis nggak jelas yang hanya berorientasi pada perbanyak keanggotaan dan masih ada bermacam versi cerita lagi. Tapi ada satu versi yang menurutku masuk akal, yakni bahwa kang Ahmad hanyalah korban dari penipuan.

Kang Ahmad sempat hidup layak, katakanlah begitu sebab ia menggunakan fasilitas hidup memadai, macam mobil dan atau yang lainnya. Mungkin itu dulu untuk mendukung gaya hidup perlete. Ia selalu terlihat berpakaian rapi, dan dipadu dengan intonasi gaya bicara memikat. Orang-orang yang mengikuti bisnis macam itu biasanya memang lebih menonjolkan penampilan.

Tetapi semua itu lenyap begitu saja bersama ditangkap dan dibongkaranya model usaha yang dikerjakan oleh Kang Ahmad dan teman-temannya. Waktu itu Kang Ahmad sudah lumayan enak. Ia ada dalam tingkatan tepat di bawah bos-bos. Kang Ahmad sudah memiliki banyak bawahan, dan oleh sebab itu ketika bangkrut maka Kang Ahmad dituntut untuk mengembalikan segala yang telah ia peroleh atau dengan kata lain Kang Ahmad menganti-rugi semua yang dituntut anak buahnya. Sampai pada akhirnya kekayaan yang telah dihimpun Kang Ahmad tak cukup lagi dan ia sempatkan pula untuk bekerja ke luar pulau demi melunasi kekurangan-kekurangannya.

Namun begitu, banyak orang yang salut dengan Kang Ahmad, yang mau bertanggung jawab, bukan seperti bos-bos atasan Kang Ahmad yang melarikan diri serta membawa uang bawahannya, entah ke mana.

Aku lekat memandang bulat oval wajah Kang Ahmad. Hanya ada sedikit rambut yang tumbuh di sisi-sisi kepala, di atas telinga dan bagian belakang kepala saja. Dalam keseharian Kang Ahmad kini lebih sering memakai kopiah dan mungkin karena alasan itu. Aku hanya menduga.

"Lho kok diam, diajak dialog malah ngelamun?" Tanya Kang Ahmad.
"Hmm... Kang. Kapan, ya? Kiranya kita terbebas dari rasa bosan menunggu hidup?" Aku sengaja bertanya yang tidak nyambung dari apa yang diomongkan Kang Ahmad awal tadi.
"Mungkin maksud pertanyaanmu begini, harus dikemanakan orang-orang miskin macam kita?"
"Lha, tapi sampeyan kan pernah kaya?" tanyaku lagi.
"Sebenarnya kaya ataupun tidak itu hanya pandangan orang lain dan biasanya dia hanya melihat lahiriahnya saja. Dan yang terpenting adalah dalamnya, kalau kita masih merasa kurang itu bukan kaya namanya."
"Begini, Kang. Kalau disuruh memilih kehidupan yang dahulu dan yang sekarang sampean pilih mana?" Desak kataku.

Kang Ahmad hanya diam, wajahnya seakan kecut dengan kenangan yang memanggangnya. Dia menantapku, aku pun diam. Ada suasana nggak mengenakkan di antara obrolan kami.
Sejenak sebelum berkata Kang Ahmad menghela nafas dalam-dalam dan menghempaskannya pelan-pelan seakan dengan begitu keluar juga segala beban yang dipikul dalam pikirannya.

"Hmm, sebenarnya kita itu dipilih bukan memilih, meski seakan yang ada di hadapan kita mengharuskan kita untuk memilih. Namun itu semua telah ada yang mengatur dan sudah ada jatah pasti."

"Kalau jawabanya kayak gitu mengapa kita harus kerja?" Eyelku.

"Sekarang gini kerja itu untuk apa? Digunakan buat apa? Toh, kalau pun kita tidak kerja apa kita akan mati? Yo, memang benar semua itu sudah ada jatah dan sudah diatur oleh Tuhan. Tapi gini mungkin ini sebuat pengibaratan, ‘Saat kita lapar. Jika sudah ada nasi di piring, lalu apa nasi itu akan datang sendiri ke mulut untuk kemudian dikunyah oleh gigi. Kan harus ada tangan untuk mengambil lalu menyuapi ke mulut. kita butuh perantara semisal cendok, tangan untuk mengambil dan sebagainya. Lha, kerja itu macam begitu, kerja itu hanya sebuah formalitas hidup."

"Yang dicari orang kan bukan hanya makan, atau hasil dari kerja yang bisa berupa harta kekayaan, berwujud materi" kata Lek Jo menimpali yang ternyata sejak tadi menyimak pembicaraanku dan Kang Ahmad

"Lalu buat apa kerja? Aku semakin bingung, Lek?" Tanyaku.

"Yah.. orang macam kamu kalau dikasih tahu malah balik membalikan tanya, tak berkesudahan jadinya” Jawab Lek Jo yang mungkin suntuk mendengarkan obrolanku dengan kan Ahmad.

“Lek, kalau kerja itu diartikan untuk membuktikan bahwa kita membutuhkan Tuhan dan hanya mencari Ridlo-nya, bagaimana? Sebab kalau kita sedang susah biasanya berdoanya manteng, khusuk dan tentunya jangan lupa jika dapat hasil, sisihkan untuk mereka yang membutuhkan agar mendapat ridlo-Nya” kata Kang Ahmad mengakhiri obrolan kami.

Benar juga cerita dari orang-orang, kayaknya kang Ahmad sudah berubah, lebih matang meski kemiskinan masih menjadi teman setia…
(mungkin kalau Kang Ahmad tidak bangkrut, ceritanya akan lain...)

_____________________________
Majalah Misykat edisi 61 Juni 2010 

gambar dari

0 comments:

Post a Comment

.